
Renungan Minggu GKI Samanhudi
Tak Ditinggalkan Dalam Sengsara
“Healing is not always about getting better, sometimes it is about feeling cared for while going through hardship.” (Kesembuhan tidak selalu tentang pulih dari sakit; terkadang, kesembuhan hadir ketika kita merasa dirawat dan tidak sendirian menghadapi penderitaan).
Merawat orang yang sedang sakit bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, apalagi kalau yang didampingi memiliki sakit yang berat dalam rentang waktu yang panjang. Kesabaran, kasih, dan kemampuan si pendamping tidak hanya akan diuji, tapi juga dibentuk seiring berjalannya waktu. Kehadiran mereka memiliki peranan yang sangat krusial karena mereka hadir dalam titik-titik terendah seseorang.
Menariknya, dalam seluruh proses itu sang pendamping (penolong) juga akan “mencicip sengsara” yang dirasakan oleh orang yang sakit. Kalau yang sakit nggak bisa tidur dengan baik, mereka pun akan ikut terjaga. Kalau mereka sedih, yang mendampingi juga nggak kalah sedih (ini juga berlaku dalam keadaan lain seperti stress, marah, dsb). Saat mereka benar-benar kesakitan, pendamping yang baik akan berupaya melakukan apa yang bisa ia kerjakan dengan sebaik mungkin karena ia tahu itu satu-satunya hal yang bisa dilakukan. Bagaimana mereka menghadirkan diri dan memperlakukan ybs akan jadi hal yang terus diingat oleh orang yang sakit. Memiliki seorang pendamping yang baik; yang tidak meninggalkan kita dalam keadaan sengsara adalah berkat yang tidak ternilai.
Yesus melakukan pendampingan yang totalitas kepada para murid ketika Ia memanggil dan mengutus mereka ke ladang pelayanan yang sulit. Pendampingan ini bukan sekadar bentuk tanggung jawab Yesus karena sudah memanggil mereka, tapi terutama karena kasih-Nya. Yesus tahu betul kalau para murid akan menghadapi sikon pelayanan yang benar-benar berat; penolakan, penganiayaan, konflik internal karena berbenturan dengan keraguan diri sendiri, konflik sosial, konflik keluarga, bahkan kematian.
Oleh karena itu Ia meletakkan fondasi beriman yang nantinya akan memampukan para murid menghadapi semua kesulitan yang menerjang. Yesus nggak hanya “mencicipi”, Ia bahkan rela masuk dalam kesengsaraan terberat untuk menjadi teladan yang hidup bagi murid-murid-Nya. Ia mendampingi mereka yang penuh dengan keterbatasan di saat Ia sendiri bergumul dengan sengsara-Nya. Yesus nggak Cuma ngomong, tapi Ia berproses langsung bersama mereka; step by step. Yesus mendampingi dan mempersiapkan para murid bukan untuk melepas mereka berjalan “sendirian”. Itu semua dilakukan untuk agar para murid menginsafi kalau Yesus akan selalu hadir dan mendampingi mereka dalam keadaan apa pun, bahkan saat Yesus tidak ada secara fisik di tengah mereka. Kekuatan terbesar seorang pendamping adalah kehadirannya di masa-masa berat, itu yang akan menolong orang yang bergumul bisa bertahan dan melangkah dalam titik-titik terendah kehidupannya.
Pdt. Maria W. Sindhu
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
Tak Ditinggalkan Dalam Sengsara
Grit
Bersama Allah Melewati Kabut Kehidupan

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
