
Renungan Minggu GKI Samanhudi
BAPA KAMI YANG DI SURGA
“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga…” (Matius 6:9)
Doa yang diajarkan Yesus diawali dengan sebuah sapaan yang begitu hangat: “Bapa kami.” Bagi masyarakat Yahudi, seorang ayah bukan sekadar kepala keluarga. Ia adalah pribadi yang bertanggung jawab memelihara, melindungi, mendidik, dan mempersiapkan masa depan anak-anaknya. Seorang ayah yang baik tidak hanya memenuhi keinginan anaknya, tetapi juga membimbing anaknya menuju kehidupan yang benar. Karena itu, seorang anak belajar mempercayai ayahnya, bahkan ketika ia belum memahami alasan di balik setiap keputusan sang ayah.
Melalui sapaan “Bapa kami”, Yesus mengajarkan bahwa relasi Allah dengan umat-Nya bukan sekadar hubungan antara Pencipta dan ciptaan atau Raja dan rakyat. Allah menghendaki hubungan yang hidup, penuh kasih, dan dilandasi kepercayaan. Kita datang kepada-Nya sebagai anakanak yang mengenal hati Bapa, bukan sebagai orang asing yang takut dihukum. Pemahaman ini semakin jelas ketika Yesus berkata, “Adakah
seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti? Atau memberi ular, jika ia meminta ikan?… Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Mat. 7:9–11).
Perkataan Yesus mengingatkan bahwa kasih seorang bapa tidak diukur dari seberapa sering ia memenuhi semua permintaan anaknya. Seorang ayah yang bijaksana justru mampu membedakan antara apa yang diinginkan anak dan apa yang sungguh dibutuhkan anak. Ada kalanya seorang anak meminta sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.
Karena kasihnya, sang ayah berani berkata “tidak”. Penolakan itu bukan tanda kurangnya kasih, melainkan wujud kasih yang melindungi . Demikian pula Bapa kita di surga. Tidak semua doa dijawab sesuai harapan kita. Ada doa yang dijawab segera, ada yang menunggu waktu-Nya, bahkan ada yang tidak dikabulkan karena Allah melihat jauh melampaui apa yang dapat kita lihat. Sebagai Bapa, Ia tidak pernah keliru dalam mengasihi anak-anak-Nya. Ia selalu memberikan yang baik menurut hikmat-Nya yang sempurna.
Karena itu, ketika kita mengucapkan “Bapa kami yang di surga”, kita sedang menyatakan iman bahwa hidup kita berada di tangan Bapa yang dapat dipercaya. Kita mungkin tidak selalu memahami jalan-Nya, tetapi kita dapat selalu mempercayai hati-Nya. Doa bukan pertama-tama tentang meyakinkan Allah agar mengikuti keinginan kita, melainkan tentang belajar berserah kepada kasih dan kebijaksanaan Bapa yang selalu menghendaki kebaikan bagi anak-anak-Nya. Ketika doa kita belum dijawab seperti yang kita harapkan, apakah kita tetap percaya bahwa Bapa di surga sedang mengerjakan yang terbaik bagi hidup kita?
Pdt. Peter Abet Nego
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
BAPA KAMI YANG DI SURGA
Bukan Ketundukan Brutal
Tak Ditinggalkan Dalam Sengsara

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
