Renungan Minggu GKI Samanhudi

BUKAN KETUNDUKAN BRUTAL

Ada satu kutipan yang mengatakan, “Historically, the most terrible things—war, genocide, and slavery—have resulted not from disobedience, but from obedience.”— Howard Zinn

Inti dari kutipan ini adalah ada banyak sekali tragedi besar dalam sejarah yang justru terjadi karena ketaatan. Nyatanya ada banyak orang yang menaati perintah, otoritas, instruksi, atau bahkan ideologi tanpa mengkritisi esensi atau moralitas yang ada di baliknya. Pada peristiwa holocaust misalnya, saat jutaan orang Yahudi dimusnahkan secara brutal, orang-orang yang melakukannya berlindung di balik “hanya menjalankan perintah”. Perbudakan terjadi dalam rentang waktu yang panjang karena ada banyak orang berada yang menerima manfaat, ada hukum atau sistem legal yang menormalisasi hal tersebut. Orangorang yang hidup di dalamnya taat menjalankan peranannya masingmasing tanpa mempertanyakan lagi keadilan di balik tindakan bengis itu. Howard Zinn tidak mengatakan bahwa ketaatan itu buruk, namun jika dilakukan dengan membabi buta (blind obedience)— mengabaikan hati nurani, akal sehat, dan kemanusiaan—maka ketaatan itu tidak lebih dari senjata yang akan menghancurkan hidup personal dan komunal.

Menarik karena firman Tuhan hari ini mengisahkan tentang ketaatan penuh Abraham saat Allah memintanya mengurbankan Ishak, anak satusatunya. Di bagian awal perikop jelas dikatakan bahwa Allah menguji Abraham. Mengapa Abraham diuji? Karena ujian itulah yang sejatinya akan turut mempertajam dan membentuk penghayatan iman Abraham kepada-Nya. Allah bukannya mau menjebak Abraham dengan pilihan yang sulit, tetapi ia rindu Abraham memahami dan menghidupi arti menjadi pengikut-Nya yang sejati. Saat diperhadapkan pada kehilangan yang besar dengan cara yang kejam kita tahu Abraham tetap memilih untuk taat. Ketaatan Abraham bukanlah ketaatan yang membabi buta tanpa berpikir; apalagi sudah jelas bahwa pengurbanan manusia bukanlah hal yang benar untuk dilakukan! Abraham memahami semua konsekuensi dari ketaatan tersebut.

Sekalipun berat, ia tetap memilih untuk taat bukan karena kepatuhan mekanis atau membabi buta terhadap perintah, melainkan karena ia sudah memahami siapa Allah yang diimaninya. Ia mungkin belum memahami secara penuh tentang bagaimana janji dan penyertaan Allah akan dinyatakan dalam perintah itu, tapi ia tahu bahwa Allah yang menjaminnya adalah kasih. Saat Allah cukup melihat kedalaman iman Abraham, ia menghentikan pengurbanan itu karena Ia adalah kasih itu sendiri. Apa yang dilakukan oleh Abraham diperhitungkan sebagai sebuah kebenaran karena dalam situasi yang menyesakkan pun ia tetap memilih Allah dalam kesadaran penuh.

Ujian iman bisa jadi terasa begitu berat, tapi Allah yang adalah kasih akan selalu membukakan jalan terbaik bagi kita. Ia tidak akan tutup mata, apalagi ketika kita melakukan bagian kita dengan keaatan yang penuh dan sadar!

Pdt. Maria W. Sindhu

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar