
Renungan Minggu GKI Samanhudi
Kemuliaan Yang Tidak Terlihat
Suatu hari saya datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Ketika masuk ke ruang rapat, semuanya sudah tertata rapi. Meja sudah bersih, kursi tersusun lurus, dan lantai sudah dipel. Tidak lama kemudian orangorang mulai berdatangan untuk rapat penting hari itu. Semua perhatian tertuju pada bahan rapat, keputusan yang akan diambil, dan hasil yang ingin dicapai.
Saya sempat melihat petugas kebersihan yang sedang merapikan bagian terakhir ruangan. Ia bekerja tenang, hampir tidak diperhatikan. Rapat nanti mungkin akan dianggap berhasil atau tidak berhasil, tetapi hampir tidak ada yang memikirkan siapa yang sudah menyiapkan ruangan sejak pagi.
Saat itu saya baru sadar, ada hal-hal yang penting justru tidak terlihat. Ada kesetiaan yang tidak pernah mendapat sorotan. Sering kali kita baru menyadarinya setelah berhenti sejenak dan melihat dengan lebih tenang.
Sering kali yang terlihat justru hasil akhirnya: rapat berjalan lancar, keputusan diambil, pekerjaan selesai. Kita mudah menghargai apa yang tampak di depan mata, tetapi jarang memikirkan usaha-usaha kecil yang memungkinkan semuanya terjadi. Padahal sering kali justru hal-hal yang tersembunyi itulah yang menopang banyak kebaikan. Bacaan minggu ini menolong kita melihat sesuatu yang serupa. Kemuliaan menurut Tuhan sering tidak tampak seperti kemuliaan menurut manusia.
Nabi Yesaya menggambarkan sosok hamba Tuhan yang tetap setia walaupun harus menanggung penderitaan. Ia dihina dan disakiti, tetapi tidak mundur karena percaya Tuhan menolongnya. Pemazmur juga berseru dari dalam kesesakan. Hidup terasa berat dan tubuh terasa lemah, tetapi ia tetap berkata, “Aku percaya kepada-Mu, ya Tuhan.” Di situ kita melihat bahwa kemuliaan iman bukan terutama pada hidup yang bebas masalah, melainkan pada hati yang tetap bersandar kepada Tuhan.
Puncaknya kita lihat dalam diri Yesus. Rasul Paulus menulis bahwa Kristus yang mulia itu merendahkan diri-Nya dan menjadi manusia. Ia taat sampai mati di kayu salib. Dalam kisah penyaliban menurut Injil Matius, Yesus tampak seperti orang yang kalah: diadili, dihina, dan disalibkan. Tidak ada tanda-tanda kemuliaan menurut ukuran manusia. Namun justru di bawah salib itu seorang perwira berkata, “Sungguh, Ia ini Anak Allah.”
Di situlah kita belajar bahwa kemuliaan Allah sering tidak tampak seperti yang kita bayangkan. Salib memperlihatkan bahwa kemuliaan Allah sering tersembunyi di balik kesetiaan dan ketaatan.
Dalam hidup sehari-hari kita sering mengukur kemuliaan dari hal-hal yang terlihat: keberhasilan, penghargaan, atau pengakuan orang lain. Kita merasa hidup lebih berarti jika ada sesuatu yang bisa dibanggakan.
Tetapi tidak semua yang mulia harus tampak gemilang. Ada orang yang tetap jujur ketika orang lain memilih jalan pintas. Ada orang yang tetap setia menjalankan tanggung jawabnya meskipun tidak diperhatikan. Ada orang yang terus berbuat baik tanpa banyak kata. Semua itu mungkin tidak menarik perhatian, tetapi di mata Tuhan itulah kemuliaan yang sejati.
Mungkin hidup kita juga terasa biasa saja. Mungkin tidak banyak yang melihat jerih payah kita. Mungkin kita sedang berjalan melalui masa yang tidak mudah. Namun Tuhan melihat kesetiaan yang kecil sekalipun.
Kemuliaan sejati bukan hanya tentang dihormati manusia, tetapi tentang hidup yang tetap percaya dan taat kepada Tuhan. Menjelang Paskah kita diingatkan kembali bahwa kemuliaan Yesus tidak berhenti pada apa yang tampak di mata manusia. Jalan-Nya melewati kerendahan dan penderitaan, tetapi justru di situlah kasih Allah dinyatakan sepenuhnya.
Karena itu kita diajak melangkah memasuki minggu yang baru dengan pengertian yang berbeda: kemuliaan tidak selalu berarti berhasil di mata dunia. Kadang kemuliaan justru sedang dibentuk ketika kita tetap setia di tengah kesulitan. Mungkin tanpa kita sadari, Tuhan sedang menunjukkan kepada kita kemuliaan yang tidak terlihat.
Bapak Ruddy Koesnadi
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
Kemuliaan Yang Tidak Terlihat
Ketika Kehilangan Datang
Ketika Mata Mulai Melihat

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
