ilustrasi seorang pria di dalam sebuah wadah terkurung dalam pemikirannya

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Waspada dan Sadar

Ada sebuah dongeng Amerika asli yang menarik, Suatu hari, dua penduduk asli Amerika pergi berburu dan melihat seekor angsa liar terbang di atas kepala mereka. “Angsa ini akan sangat enak jika dimasak menjadi rebusan,” kata pemburu pertama saat ia mempersenjatai busurnya dengan anak panah dan membidik burung itu.

“Rebusan?” kata pemburu kedua. “Saya lebih suka memanggangnya di atas api.”
“Rebusan!” teriak pemburu pertama, sambil melepaskan panah dari busurnya.
“Panggang!” kata yang kedua.
Demikianlah keduanya terus berdebat, semakin berapi-api.

“Mari kita mencari nasihat dari kepala suku, dia yang akan memutuskan mana cara terbaik untuk memasak angsa!” salah satu pemburu akhirnya berkata, dan mereka pun pergi. Menanggapi pertanyaan mereka, kepala suku menyarankan agar saat menangkap angsa, mereka memasak setengahnya dengan rebusan dan memanggang setengah lainnya di atas api. Puas dengan saran kepala suku, kedua pemburu lapar itu pergi lagi untuk menangkap makan malam mereka. Sementara angsa itu sudah terbang jauh.—(Buku Points Of You, hal.70)

Cerita ini menegaskan pentingnya “sekarang”; menggunakan, mengisi, dan menangkap kesempatan dalam waktu yang terus berjalan dan tidak berulang. Sayangnya tidak semua orang memiliki kewaspadaan untuk “hidup dan menghadirkan diri dengan penuh” dalam waktu sekarang. Waktu-waktu yang terus berjalan secara rutin menggerus kesadaran orang untuk memiliki kewaspadaan dalam mengupayakan dan memproses itu semua. Oleh karena itu tidak heran kalau ada banyak kesempatan yang hilang, momen penting yang terlewatkan, hati yang tidak pernah pulih, relasi yang tetap atau bahkan makin retak, tugas yang bertumpuk dan tidak tahu harus mulai dari mana untuk menyelesaikannya, diri yang tidak pernah berproses apalagi bertumbuh, dan lain sebagainya. Nyatanya, waktu memang akan berlalu, ada banyak kesempatan yang tidak bisa terulang, tapi memiliki kesadaran dan kewaspadaan dalam menghadirkan diri secara penuh adalah kunci. Itulah yang akan selalu bisa menolong seseorang kembali pada fokus hidup yang seharusnya; untuk mengatur ulang dan melakukan apa yang seharusnya diupayakan dalam hidup. Itu yang menjadikan hidup makin berharga.

Oleh karena itu mari kita jalani hidup dengan kewaspadaan dan kesadaran yang penuh dan utuh. Mulailah dengan melihat lebih dalam momen-momen yang terasa kecil dan biasa. Berjumpalah dengan dirimu sendiri; tanyakan pada dirimu: sudahkah kamu bahagia, apa yang jadi penyesalan terbesarmu, kamu sebenarnya mau apa sih dalam hidup, apa yang masih harus dibereskan, kamu mau jadi orang seperti apa nanti, dsb. Jawablah dengan melakukan bagian kita sekarang; bereskan hal yang perlu dibereskan, ubah hal-hal nampaknya kecil tapi sebenarnya berdampak besar, kejar dengan sekuat tenaga hal yang kamu rindukan, lihat dan hargai orang dan momen di sekitarmu. Dengan demikianlah kita memberi arti dan merayakan hidup yang sudah Tuhan beri.

Mulai dari dirimu, dan kepada orang-orang terdekatmu.

Pdt. Maria W. Sindhu

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar