
Renungan Minggu GKI Samanhudi
Sang Peziarah
Pada abad ke-18, ada seorang Rabi di Polandia bernama Hofetz Chaim. Ia dikenal bukan hanya karena kebijaksanaannya, tetapi juga karena kesederhanaan hidupnya. Suatu hari, seorang tamu dari Amerika berkunjung ke rumahnya. Tamu itu tertegun melihat rumah sang rabi yang nyaris kosong, hanya ada beberapa rak buku, sebuah meja, danbangku. Tidak ada perabot mewah, tidak ada tanda-tanda kekayaan.
Dengan heran, tamu itu bertanya, “Rabbi, di mana Anda menyimpan perabot rumah yang lain?” Hofetz Chaim tidak langsung menjawab. Ia justru bertanya balik, “Engkau sekarang berada di mana?” Orang Amerika itu bingung sejenak, lalu menjawab, “Saya ada di sini, tapi hanya sebagai pengunjung. Saya cuma singgah.” Rabbi itu tersenyum dan berkata pelan, “Saya juga begitu.”
Kisah ini sederhana, tetapi menyimpan kebenaran yang dalam: hidup kita di dunia ini sesungguhnya hanyalah persinggahan. Kita bukan pemilik mutlak, melainkan peziarah yang sedang berjalan. Sayangnya, sering kali kita hidup seolah-olah dunia ini adalah tujuan akhir. Kita menumpuk, mengejar, dan menggenggam hal-hal yang sesungguhnya
sementara: jabatan, kekayaan, status sosial, popularitas, dan pengakuan manusia. Ketika hidup dipusatkan pada semua itu, yang sering muncul justru kelelahan batin. Kita mudah kecewa, cemas, putus asa, dan merasa hampa, terutama ketika target hidup itu tidak tercapai. Bukan karena hal-hal itu jahat, melainkan karena kita memberinya tempat yang salah.
Apakah itu berarti orang Kristen tidak boleh memiliki harta, jabatan, atau kedudukan? Tentu tidak. Alkitab tidak menolak berkat. Namun iman Kristen dengan tegas mengingatkan: semua itu adalah sarana, bukan tujuan. Alat, bukan pusat hidup. St. Agustinus dalam Confessions menuliskan kalimat yang sangat terkenal: “Hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.” Menurut Agustinus, kegelisahan manusia muncul ketika cinta kita salah arah. Kita mengasihi ciptaan lebih daripada Sang Pencipta.
Kita melekat pada hal-hal yang tidak kekal, padahal jiwa kita diciptakan untuk yang kekal. Inilah yang secara teologis disebut ordo amoris atau tata kasih. Hidup menjadi rusak bukan karena kita mengasihi, tetapi karena kita mengasihi dengan urutan yang keliru.
Kisah istri Lot yang berubah menjadi tiang garam adalah gambaran kuat tentang hati yang masih tertinggal di belakang. Tubuhnya melangkah keluar, tetapi hatinya tertambat pada apa yang ditinggalkan: kenyamanan, harta, dan rasa aman semu. Dalam terang iman, kisah ini menegur kita: sering kali kita gagal menikmati kebaikan Allah bukan karena Allah jauh, melainkan karena hati kita terlalu penuh oleh dunia sehingga tidak memberi ruang bagi-Nya. Padahal kehendak Tuhan jelas: kasih kepada Allah harus nyata dalam kasih kepada sesama. Hidup yang berpusat pada Tuhan selalu bermuara pada hidup yang memanusiakan orang lain. Di sanalah Allah dimuliakan. Seperti dikatakan dalam tradisi iman Kristen yang kemudian ditegaskan kembali oleh Katherine Patersonn bahwa tujuan hidup orang percaya adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.
Jika kita sungguh menyadari bahwa hidup ini singkat dan sementara, maka terlalu mahal harganya bila diisi dengan kebencian, penindasan, ketidakadilan, manipulasi, dan luka yang kita tinggalkan pada sesama. Kesadaran bahwa kita hanya “numpang lewat” justru seharusnya mendorong kita untuk hidup dengan lebih bermakna: memilih kebaikan, menabur kasih, dan menghadirkan kehadiran yang menyembuhkan. Mari kita isi perjalanan singkat ini dengan kasih, kasih yang sederhana, nyata, dan setia. Mengasihi orang-orang yang berjalan bersama kita hari ini. Dengan demikian, ketika tiba saatnya kita melanjutkan perjalanan, kita tidak meninggalkan kehampaan, melainkan jejak yang hangat: kenangan baik, kebaikan yang bertumbuh, dan kasih yang terus hidup di hati mereka yang masih berjalan. Karena hidup ini begitu berharga, sebagai sesama peziarah, janganlah kita menyia-nyiakannya.
Pdt. Semuel Akihary
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
Sang Peziarah
Burung dan Semut
Hidup Yang Bermakna Di Tengah Kefanaan

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
