pexels-vlada-karpovich-4449315

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Dari Kontrol Menuju Kepercayaan

Dunia yang kita hidupi hari ini ditandai oleh ketidakpastian yang semakin nyata. Perubahan sosial yang cepat, krisis ekonomi global, perkembangan teknologi yang disruptif, hingga ancaman bencana dan konflik, membentuk realitas yang sering kali sulit diprediksi. Dalam situasi ini, banyak orang hidup dengan kecemasan akan hari esok. Pertanyaannya: bagaimana iman Kristen memampukan seseorang untuk hidup di tengah dunia yang tidak pasti tanpa kehilangan arah dan pengharapan?

Secara teologis, ketidakpastian bukanlah fenomena baru. Alkitab sendiri menggambarkan hidup manusia sebagai rapuh dan terbatas, bagaikan uap (bdk. Yakobus 4:14). Dalam perspektif ini, ketidakpastian bukan sekadar akibat dari dunia modern, melainkan bagian dari kondisi eksistensial manusia yang hidup di dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Teolog seperti Stanley Hauerwas dalam A Community of Character menekankan bahwa kekristenan bukanlah tentang menghindari ketidakpastian, melainkan belajar hidup setia di tengahnya. Iman Kristen tidak menawarkan kontrol atas masa depan, tetapi membentuk karakter yang mampu berjalan dalam ketaatan, bahkan ketika arah tidak sepenuhnya jelas. Dalam dunia yang tidak pasti, yang membentuk kita bukanlah kepastian masa depan, melainkan praktik iman yang mengarahkan hati kepada Allah. Dalam cara itu, salah satu fondasi utama iman Kristen adalah keyakinan akan kedaulatan Allah. Namun, penting untuk memahami bahwa kedaulatan Allah tidak selalu berarti hidup tanpa masalah atau jalan yang selalu jelas. Sebaliknya, kedaulatan Allah berarti bahwa bahkan dalam ketidakpastian, hidup manusia tetap berada dalam genggaman-Nya.

  1. T. Wright dalam bukunya Surprised by Hope mengingatkan bahwa pengharapan Kristen bukanlah pelarian dari dunia yang kacau, tetapi keyakinan bahwa Allah sedang bekerja di dalam sejarah, bahkan melalui situasi yang tampaknya tidak teratur. Pengharapan Kristen bersifat aktif, artinya mengundang umat untuk tetap setia dan terlibat dalam dunia, bukan menarik diri darinya. Iman Kristen selalu berorientasi ke masa depan Allah.

Oleh karena itu, harapan bukan sekadar optimisme psikologis, tetapi respons iman terhadap janji Allah yang setia. Dengan begitu, ketidakpastian tidak lagi menjadi ancaman mutlak, melainkan ruang di mana iman dan harapan diuji serta dimurnikan.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah keinginan manusia untuk mengontrol masa depan. Namun, iman Kristen justru mengundang pergeseran dari kontrol menuju kepercayaan (trust). Ini bukan sikap pasif, melainkan tindakan aktif menyerahkan hidup kepada Allah sambil tetap bertanggung jawab dalam menjalani hari ini. Hidup rohani, pada hakekatnya adalah perjalanan dari ilusi kontrol menuju penyerahan diri kepada kasih Allah. Dalam konteks ketidakpastian, ini berarti belajar mempercayakan masa depan kepada Allah, sambil setia menjalani panggilan di masa kini. Praktik iman seperti doa, pembacaan firman, dan kehidupan komunitas menjadi sangat penting. Praktik-praktik ini bukan sekadar rutinitas religius, tetapi sarana pembentukan hati agar tetap tertuju kepada Allah di tengah dunia yang berubah-ubah.

Dalam cara itu, muncul kesadaran bahwa iman Kristen tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani secara individualistik melainkan komunal. Dalam dunia yang tidak pasti, komunitas menjadi tempat di mana pengharapan dipelihara bersama. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang saling menguatkan, mengingatkan akan janji Allah, dan hadir sebagai tanda kehadiran Kerajaan Allah di tengah dunia. Komunitas Kristen adalah anugerah yang memampukan orang percaya untuk tetap berdiri dalam iman, terutama ketika secara pribadi mereka merasa lemah. Dalam komunitas, iman tidak hanya diajarkan, tetapi dialami dan dihidupi bersama.

Menghadapi hari esok dalam dunia yang tidak pasti bukanlah tentang menemukan jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai rencana kita. Sebaliknya, iman Kristen mengajarkan bahwa kepastian sejati tidak terletak pada situasi, melainkan pada Pribadi, Allah yang setia. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam tiga sikap utama: iman yang mempercayai Allah, harapan yang berakar pada janji-Nya, dan kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata di dunia. Ketidakpastian tidak dihapuskan, tetapi ditransformasikan menjadi ruang perjumpaan dengan Allah yang hidup.

Pdt. Semuel Akihary

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar