
Renungan Minggu GKI Samanhudi
Burung dan Semut
Sebuah kisah menarik datang dari dunia hewan. Cerita tentang burung yang, ketika tubuhnya terasa sakit, justru pergi ke sarang semut dan sengaja mengusik semut-semut itu. Bahkan. Mereka dapat berbaring di atas sarang semut. Tindakan ini tampak aneh. Bukankah makhluk yang sedang menderita biasanya berusaha menghindari rasa sakit tambahan? Namun, di balik perilaku itu tersimpan hikmat alam yang dalam. Ketika semut merasa terganggu, mereka melepaskan asam format, zat alami yang membantu membunuh parasit dan meredakan iritasi pada tubuh burung. Rasa perih sesaat justru menjadi jalan menuju kesembuhan.
Fenomena ini mengingatkan kita pada realitas hidup manusia di hadapan Allah. Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna, dunia yang menurut kesaksian Alkitab telah “jatuh” dan penuh dengan penderitaan (Roma 8:22). Namun, penderitaan dalam iman Kristen tidak pernah dipahami sebagai sesuatu yang sepenuhnya sia-sia. Allah tetap bekerja di dalam dunia yang terluka ini, bahkan melalui cara-cara yang tidak selalu nyaman atau mudah dipahami. Sering kali, naluri manusia adalah menghindari ketidaknyamanan atau kesakitan. Kita berdoa agar masalah segera berlalu, luka cepat sembuh, dan pergumulan disingkirkan. Namun kisah burung dan semut ini mengajak kita melihat bahwa kesembuhan tidak selalu datang dengan cara menghindari rasa sakit. Ada kalanya pemulihan justru terjadi ketika kita berani menghadapi proses yang sulit, menyakitkan, dan mengganggu kenyamanan.
Di sinilah iman Kristen menemukan gema yang kuat dalam peristiwa salib. Keselamatan manusia tidak dikerjakan melalui jalan yang mudah atau instan, melainkan melalui penderitaan Kristus. Nabi Yesaya menuliskan, “Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:5). Salib, yang bagi dunia adalah lambang kegagalan dan penderitaan, justru menjadi sarana Allah menghadirkan keselamatan dan pemulihan bagi manusia. Luka tidak dihindari, tetapi dipikul, dan dari sanalah kehidupan baru lahir. Hal ini menolong kita memahami bahwa Allah tidak sekadar menawarkan kelegaan sesaat. Ia tidak hanya menghapus rasa sakit, tetapi memulihkan manusia secara utuh. Seperti asam format yang bukan hanya menenangkan kulit burung, tetapi membersihkan parasit dan melindungi kehidupannya, demikian pula karya Allah dalam hidup orang percaya. Proses yang menyakitkan sering kali menjadi jalan Allah membersihkan, membentuk, dan memperbaharui kita.
Surat Ibrani mengingatkan bahwa didikan Tuhan memang tidak menyenangkan pada saat dijalani, tetapi kemudian menghasilkan buah kebenaran dan damai sejahtera (Ibr. 12:11). Ini adalah pengharapan iman: penderitaan bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses pemulihan Allah. Kita diajak berefleksi dengan jujur. Jangan-jangan kita terlalu cepat menolak “sarang semut” dalam hidup (teguran, konflik, kegagalan, atau proses panjang yang tidak nyaman). Padahal justru di sanalah Allah sedang bekerja menyembuhkan luka yang lebih dalam. Iman Kristen tidak meniadakan rasa sakit, tetapi percaya bahwa Allah hadir dan berkarya di tengah rasa sakit itu.
Pada akhirnya, kisah sederhana dari alam ini menegaskan sebuah kebenaran iman: di tangan Allah, bahkan pengalaman yang melukai dapat menjadi sarana pemulihan. Kesembuhan sejati sering kali tidak datang dengan menghindari ketidaknyamanan, tetapi dengan mempercayakan diri kepada Allah yang sanggup mengubah sengatan menjadi kehidupan.
Pdt. Semuel Akihary
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
Sang Peziarah
Burung dan Semut
Hidup Yang Bermakna Di Tengah Kefanaan

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
