kekristenan-merengkuh-budaya

Kedatangan Kekristenan bersamaan dengan bangsa-bangsa Barat memengaruhi cara Kekristenan dihadirkan di Indonesia. Kekristenan Barat yang berusaha ditanamkan para misionaris Barat, nyatanya mencengkram dan mencabut akar budaya kita dengan kuat. Padahal, budaya adalah bagian dari jati diri kita sebagai orang Indonesia. Dalam budaya Jawa misalnya, benturan dan penolakan terhadap budaya lokal sebagai reaksi yang umumnya diberikan oleh orang-orang Kristen Londo1 , membuat banyak orang Jawa Kristen kehilangan identitas kebudayaannya. Kekristenan tidak berjejak dalam konteks di mana mereka lahir dan menjalani kehidupan. Hal ini bertolak belakang sekali dengan sikap orang-orang Jawa pada umumnya. Sastrosupono menjelaskan bahwa orang Jawa memiliki sikap terbuka untuk berkompromi dengan keberadaan agama maupun kebudayaan lain. Apa yang ada dan sudah mapan tidak perlu dan tidak usah dibuang, sedangkan apa yang baru dan asing tidak usah ditolak mentah-mentah karena apa yang sudah ada sebelumnya.

Kecenderungan untuk mencurigai dan menolak budaya, justru menyebabkan perjumpaan Injil dan budaya mengalami ketegangan, bahkan pemisahan hingga saat ini. Bukankah ada banyak di antara kita yang tidak tenang saat melakukan hal-hal yang terkait dengan budaya, apapun sukunya? Kita takut jadi batu sandungan, kita mempertanyakan apa yang benar dan salah dari kacamata iman, atau mungkin kita tetap melakukan kebiasaan-kebiasaan budaya tertentu tapi enggan menyebutkannya dengan jelas (misal; mengadakan selametan tapi dibalut dengan judul ibadah syukur, padahal pelaksanaannya bertepatan dengan 7 hari, 40 hari, dst). Apakah menjadi orang Kristen, tidak lagi boleh menjadi orang yang menghidupi budayanya?

Eka Darmaputera pernah menuliskan bahwa, “kehidupan manusia tidak hanya dipengaruhi dan dibentuk oleh iman namun juga oleh kebudayaan. Pemisahan di antara keduanya menyebabkan hidup seseorang tidak benar-benar utuh. Oleh karena itu permasalahannya kini bukanlah lagi memilih mana yang lebih baik antara “ini-atau-itu” karena keduanya saling memberi bentuk dan isi.” Ketegangan dalam perjumpaan Injil dan budaya Jawa semestinya bisa dihindarkan. Memahami Injil tidaklah cukup hanya dengan menggali kekayaan yang terdapat di dalam teks Alkitab. Kekayaan pesan Injil yang digali harus dapat dimaknai Kembali secara kritis dalam terang kebudayaan yang melaluinya kita menjalani kehidupan, begitu pula sebaliknya. Kontekstualisasi dan reinterpretasi (pemaknaan kembali) menjadi kunci penting untuk menghidupi keduanya dengan baik. Dengan demikianlah Kekristenan akan bisa berjejak pada konteksnya dan mengakar dengan kuat.

Bukankah ini juga yang dilakukan Kristus? Ia menyampaikan kabar baik, berita keselamatan itu melalui konteks pendengar. Ia menggunakan “bahasa” yang dimengerti agar pesan Tuhan itu dapat dipahami dan dihidupi dengan baik. Sejak semula Yesus merengkuh budaya. Ia tidak memisahkan diri dari budaya. Kontekstualisasi dan reinterpretasi yang terjadi antara Injil dan budaya, akan menolong setiap orang untuk bisa menghidupi panggilan imannya dalam konteks yang nyata.

  1. Istilah Kristen Londo diungkapkan oleh Pieter Jansz, seorang penginjil dari Belanda, diakhir abad ke-19 yang juga berarti “Dutch Christian”. Istilah ini diungkapkan Jansz ketika terjadi perseteruan dengan Tunggul Wulung, penginjil yang mengakarkan Injil pada budaya Jawa setempat, untuk membedakan orang Kristen Belanda dengan pribumi. Orang Kristen Londo dituntut oleh untuk menanggalkan ritual budaya Jawa yang sebelumnya melekat erat di dalam diri mereka oleh para penginjil (Soejana, Subanar, dkk. 2008, 673).

Pdt. Maria W. Sindhu

Renungan lainnya