harapan-itu-selalu-ada

Wajah bapak yang sedang bercerita pada saya sore itu tampak lesu dan tak bercahaya. Ia bertutur, perusahaan tempatnya bekerja mengalami kebangkrutan. Sebagian besar karyawan, termasuk dirinya, terpaksa dirumahkan. Dampak pandemi Covid-19 terasa berat untuk dihadapinya, karena kehilangan pekerjaan itu berarti kehilangan penghasilan. Padahal ia membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya, yaitu biaya sekolah anak-anak, perawatan orangtuanya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan, dan lain sebagainya. Ketakutan nampak pada raut wajahnya. Di akhir ceritanya, ia mengatakan putus asa dan merasa tidak punya harapan.

Kehilangan semangat bahkan gairah hidup dapat dialami oleh semua orang ketika menghadapi realita hidup yang menekan. Namun saya banyak menjumpai orang dengan pergumulan serupa tetapi dengan respon yang berbeda. Mereka terlihat tetap semangat, gembira dan menjalani hidup dengan banyak bersyukur. Merenungkan hal itu membawa saya pada sebuah pelajaran hidup yang penting.

Sesungguhnya yang menentukan sukacita dan semangat kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain atau situasi dan kondisi yang sedang kita alami. Kuncinya adalah kemana kita mengarahkan hati kita dalam menjalani hidup ini. Bila kepada manusia atau kepada situasi dan kondisi di sekitar kita, maka kita akan mudah jatuh pada kekecewaan, sakit hati, kekhawatiran, ketakutan, hilang harapan, putus asa dan sebagainya. Bila kita tidak ingin mengalaminya, maka kita harus melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Apa yang kita ubah dan bagaimana caranya? Mengarahkan hati kepada Tuhan. Alias focus kepada Tuhan. Itulah caranya. Mengingat dan selalu melihat kepada Tuhan yang senantiasa hadir dan berperan dalam hidup kita serta terus berkarya untuk kebaikan kita.

Saat mengarahkan hati kepada Tuhan, masalah kita tetap ada, tetapi kita tidak menghadapinya dengan kekuatan kita dan mengandalkan kemampuan kita. Persoalan masih belum teratasi, tetapi kita memiliki pengharapan. Iman menjadikan kita tetap dapat melihat pelangi kasih Tuhan di balik semua badai hidup yang menerpa kita. Kita terbatas, tetapi Tuhan tidak terbatas. Kita tidak mampu, tetapi Tuhan mampu. Karena itu kita memiliki pengharapan dan karena pengharapan itu kita tetap dapat menjalani hidup dan menghadapi semua persoalan-persoalan kita bersama Tuhan yang menopang dan menolong kita.

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4 : 13).

Pdt. Frida Situmorang

Renungan lainnya