Ilustrasi Kubur Kosong Dengan Latar Salib di Bukit

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

Mengalahkan Luka

Ada luka yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Luka yang bukan hanya melukai tubuh, tetapi merobek jiwa. Luka yang tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga pertanyaan: mengapa ini harus terjadi? Seorang ibu berdiri di ruang sidang, membawa luka seperti itu. Anaknya, yang ia kandung, ia besarkan, ia kasihi, tidak akan pernah pulang lagi. Bukan karena sakit. Bukan karena kecelakaan. Tetapi karena seseorang dengan sengaja merenggut hidupnya. Hari itu, ia berdiri berhadapan dengan orang yang telah menghancurkan dunianya. Semua orang di ruangan itu tahu apa yang wajar terjadi. Kemarahan. Kebencian.Tuntutan balas dendam. Dan bukankah itu adil? Bukankah itu manusiawi? Hakim memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara. Ia berdiri. Suaranya bergetar. Air matanya tidak bisa ditahan. Ia tidak menyangkal lukanya. Ia tidak menutupi kehancurannya. Ia berkata, “Kamu telah mengambil sesuatu yang sangat berharga dari saya… anak saya…” Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Menyesakkan. Semua orang menunggu kelanjutannya. Menunggu sebuah ledakan emosi yang dianggap pantas. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dengan suara yang sama rapuhnya, ia melanjutkan: “Aku memilih untuk mengampuni kamu… karena Yesus lebih dulu mengampuni aku.” Kalimat itu memecah keheningan dengan cara yang tidak biasa. Bukan seperti petir yang menggelegar, tetapi seperti cahaya yang tiba-tiba menembus kegelapan paling pekat. Tidak semua orang langsung mengerti. Bahkan mungkin sulit diterima. Bagaimana mungkin seseorang yang kehilangan segalanya masih bisa memilih untuk mengampuni?

Jawabannya tidak terletak pada kekuatan dan logika manusia. Pengampunan seperti itu tidak lahir dari alasan logis. Ia tidak muncul dari proses “move on” yang cepat, atau dari usaha melupakan luka. Pengampunan seperti itu hanya mungkin ketika seseorang telah lebih dahulu disentuh oleh kasih yang melampaui akal. Kasih yang kita kenal dalam salib Kristus. Di kayu salib, Yesus tidak menunggu manusia berubah baru Ia mengampuni. Ia tidak menunggu luka-Nya sembuh baru Ia berkata, “Bapa, ampunilah mereka.” Justru di tengah penderitaan, di saat paku masih menembus tanganNya, di saat hinaan masih terdengar di telinga-Nya, Ia memilih mengampuni.

Pengampunan itu bukan reaksi. Pengampunan itu keputusan. Dan keputusan itu mengalir dari kasih yang tidak bersyarat. Ibu itu, dalam luka yang begitu dalam, ternyata tidak sedang menunjukkan kekuatan dirinya. Ia sedang menjadi saksi bahwa kuasa salib itu nyata, bahwa apa yang Yesus lakukan lebih dari dua ribu tahun lalu tidak berhenti sebagai cerita, tetapi terus bekerja, mengubah hati manusia sampai hari ini. Beberapa tahun setelah persidangan itu, ia melakukan sesuatu yang bahkan lebih sulit dipahami. Ia datang ke penjara. Ia menemui orang yang telah membunuh anaknya. Bukan untuk mengungkit luka, bukan untuk memperpanjang kebencian, tetapi untuk membawa sesuatu yang tak terduga: kehadiran, perhatian, bahkan kasih. Ia berkata, “Saya ingin menjadi ibumu juga.” Di titik ini, kita mungkin berhenti dan bertanya: apakah ini masuk akal? Apakah ini tidak berlebihan? Namun justru di situlah letak misteri Paskah.

Paskah bukan sekadar perayaan bahwa Yesus bangkit. Paskah adalah pernyataan bahwa kematian, dalam bentuk apa pun, tidak lagi memegang kata terakhir. Termasuk kematian relasi, kematian hati, dan kematian harapan. Pengampunan ibu itu tidak menghapus apa yang telah terjadi. Anaknya tetap tidak kembali. Lukanya tetap nyata. Tetapi luka itu tidak lagi menjadi penguasa hidupnya. Ia memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguburnya hidup-hidup. Di dalam kebangkitan Kristus, ia menemukan kemungkinan baru: bahwa hati yang hancur bisa dipulihkan, bahwa kasih bisa tumbuh di tanah yang paling tandus sekalipun. Situasi ini mengingatkan kita pada apa yang pernah dikatakan Martin Luther King Jr. “Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that.” Kutipan ini hendak menegaskan bahwa kebencian tidak pernah benar-benar menyelesaikan luka, ia hanya memperpanjangnya. Dan bahwa pengampunan bukan kelemahan, tetapi tindakan radikal yang memutus rantai kejahatan.

Mungkin kita tidak pernah mengalami kehilangan sebesar itu. Namun, kita semua mengenal luka, dalam bentuknya masing-masing. Ada kata-kata yang melukai. Ada pengkhianatan yang sulit dilupakan. Ada kekecewaan yang diam-diam kita simpan. Dan sering kali, tanpa sadar, kita membiarkan luka itu tinggal terlalu lama. Kita memeliharanya. Kita mengulangnya dalam pikiran.

Kita membangun tembok di sekeliling hati kita dengan alasan melindungi diri. Namun tembok itu tidak hanya menahan orang lain keluar. Ia juga menahan kita tetap di dalam. Paskah datang bukan hanya untuk memberi kita penghiburan, tetapi juga undangan. Undangan untuk keluar dari kubur kita masing-masing: kubur kebencian, kepahitan, dan luka yang tidak kunjung dilepaskan. Mengampuni tidak berarti melupakan. Mengampuni tidak berarti membenarkan kesalahan.

Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas, dan mempercayakan keadilan kepada Tuhan. Dan itu tidak mudah. Bahkan sering kali terasa mustahil. Tetapi di situlah kita diingatkan: kekristenan tidak pernah dibangun di atas kemampuan manusia, melainkan di atas karya Kristus. Kita mengampuni bukan karena kita kuat, tetapi karena kita telah lebih dulu diampuni.

Mungkin hari ini, ada seseorang yang masih kita “penjarakan” di dalam hati kita. Mungkin kita merasa mereka tidak layak diampuni. Mungkin kita merasa luka kita terlalu dalam. Namun Paskah mengingatkan kita: tidak ada luka yang terlalu dalam bagi kasih Kristus, dan tidak ada hati yang terlalu keras untuk diubahkan oleh-Nya. Kebangkitan bukan hanya tentang Yesus yang keluar dari kubur. Kebangkitan adalah ketika hati kita juga dibangkitkan: dari kebencian menjadi kasih, dari kepahitan menjadi pengharapan. Dan mungkin, langkah pertama menuju kebangkitan itu dimulai dari satu keputusan yang sederhana, namun radikal: memilih untuk mengampuni.

Pdt. Semuel Akihary

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar