
Renungan Minggu GKI Samanhudi
Menjaring Angin
Menjaring angin itu melelahkan. Waktu, tenaga, pikiran terkuras habis, tetapi tidak ada hasilnya, sia-sia, percuma. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari bahwa banyak hal yang dilakukan dalam hidupnya seperti usaha menjaring angin. Antara lain, bekerja keras mengejar dan mengumpulkan harta kekayaan, lalu menikmatinya hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri sendiri. Bahkan Tuhan tidak masuk dalam hitungan. Padahal hidup dan semua yang ada di dalamnya adalah pemberian Tuhan. Hidup akhirnya jadi kehilangan arti dan makna, yang dijumpai hanyalah kesia-siaan. Seperti menjaring angin kata Pengkhotbah.
Injil Lukas 12:13-21 menyampaikan pengajaran penting Yesus tentang ketamakan sebagai akar sengketa, ketika Ia menolak permintaan seseorang yang menginginkan-Nya membantunya untuk mendapatkan warisannya. Kata Yesus, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab, walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah berasal dari kekayaannya itu.” Bagi Yesus, ada hal yang lebih hakiki dari sekedar soal warisan dan harta, yaitu ketamakan dan kemelekatan terhadap harta. Hukum memang dapat membereskan persoalan pembagian harta, tetapi hukum tidak dapat membereskan persoalan ketamakan yang ada di dalam hati manusia.
Lewat perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh Yesus mengingatkan bahwa seseorang dapat memperolah harta berlimpah melalui kerja keras, tetapi pada akhirnya harta tersebut tidak dapat membeli hidup itu sendiri. Betapa pun kerasnya seseorang bekerja dan mendapatkan hasil yang berlimpah, pada saat kematian datang, ia harus meninggalkan semuanya. Oleh sebab itu manusia tidak boleh memfokuskan hidupnya pada sesuatu yang fana. Hidup ini sangat berharga, lebih berharga dari apapun. Sehingga perlu bijaksana menjalaninya agar tidak menjadi seperti menjaring angin, yang berujung kesia-siaan, melainkan menjadikannya berarti dan bermakna.
Sejatinya hidup yang singkat ini tidak boleh sia-sia dan percuma, melainkan harus berarti dan bermakna. Untuk itu Paulus mengingatkan, bahwa sebagai orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus, hendaknya orang percaya mencari hal-hal yang ada di atas, di mana Kristus ada. Memikirkan hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Hal itu bukan berarti kita tidak perlu memikirkan kebutuhan hidup dan tanggungjawab kita kepada keluarga dan orang-orang yang dipercayakan kepada kita. Justru hal-hal tersebut kita lakukan sebagai salah satu wujud pengabdian kita kepada Tuhan yang adalah pemilik waktu dan hidup kita, serta menjadi wujud kasih kepada sesama. Kita memikirkan dan melakukan dalam tindakan konkret hal-hal yang berkenan dan memuliakan Tuhan dan mendatangkan kebaikan bagi sesama dan dunia.
Jadi, agar hidup yang singkat ini menjadi berarti dan bermakna, pastikan Yesus menjadi pusat kehidupan kita dan pakailah semua pemberian-Nya, termasuk harta kekayaan, menjadi kebaikan bagi semua. Gunakan setiap kesempatan untuk berkarya dengan hati yang terarah kepada Tuhan dan hidup menjadi berkat bagi sesama dan dunia. Ini mengingatkan saya pada sepenggal syair dalam nyanyian NKB 211 karangan Ira D. Sankey,
Janganlah sia-siakan waktumu, hibur dan tolonglah yang berkeluh.
Biarlah lampumu t’rus bercahaya, muliakanlah Tuhan di hidupmu.
Ref. : Tiada yang baka di dalam dunia, s’gala yang indahpun akan lenyap.
Namun kasihmu demi Tuhan Yesus sungguh bernilai dan tinggal tetap.
Pdt. Frida Situmorang
Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya
Menjaring Angin
Sang Peziarah
Burung dan Semut

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com
PERSEMBAHAN

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi
BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA
Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
