Renungan Minggu GKI Samanhudi Hidup Yang Bermakna Di Tengah Kefanaan

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Hidup Yang Bermakna Di Tengah Kefanaan

Salah satu pergumulan paling mendasar dalam hidup manusia adalah pertanyaan tentang makna: Untuk apa aku hidup? Apakah yang kukejar sungguh bernilai? Boleh jadi kita dalam menemukan jawaban atas pertanyaan ini di mana pun. Namun bagaimana pun, Alkitab memberi dasar yang kuat atas pertanyaan semacam itu. Kitab Pengkhotbah hadir dengan keberanian intelektual yang jarang ditemukan dalam teks-teks Alkitab lainnya. Pengkhotbah tidak menutupi absurditas hidup, melainkan mengakuinya secara jujur. Pikiran pokok kitab ini terangkum dalam pernyataan yang berulang: “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2).

Kata kesia-siaan (Ibrani: hebel) tidak sekadar berarti “tidak berguna”, melainkan “uap” atau “nafas yang cepat lenyap”. Dengan kata lain, Pengkhotbah tidak sedang meniadakan hidup, tetapi menyingkapkan sifatnya yang rapuh, sementara, dan tak dapat sepenuhnya digenggam. Hidup manusia, betapa pun penuh prestasi, kekayaan, hikmat, dan kesenangan, pada akhirnya tidak kebal terhadap kefanaan (a.k.a. kematian).

Pengkhotbah menelusuri berbagai sumber makna yang lazim dikejar manusia: hikmat, kerja keras, kekayaan, kesenangan, bahkan moralitas. Semuanya diuji, dan semuanya dinyatakan terbatas. Namun penting dicatat: Pengkhotbah bukan seorang nihilistis atau si pesimis. Ia bukan mengatakan bahwa hidup tidak bermakna, melainkan bahwa hidup tidak dapat dimaknai secara utuh jika dilepaskan dari Allah.

Pada titik inilah letak ide teologis yang penting: makna hidup tidak lahir dari apa yang manusia kumpulkan, tetapi dari relasi yang benar dengan Sang Pemberi hidup. Penegasan ini mau bilang bahwa manusia tidak dapat hidup seutuhnya tanpa Allah! Puncak refleksi Pengkhotbah terdapat dalam penutup kitab: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (Pkh. 12:13). Takut akan Allah bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan sikap eksistensial yang menempatkan Allah sebagai pusat makna.

Pengkhotbah justru mengundang manusia untuk menikmati hidup (makan, minum, bekerja, dan bersukacita) sebagai anugerah, bukan sebagai berhala. Kenikmatan hidup menjadi sehat ketika ia diterima, bukan dimutlakkan. Sebuah kehidupan yang senantiasa terhubung (relasi) dengan Allah.

Pemikiran ini sejalan dengan Dallas Willard dalam “The Divine Conspiracy: Rediscovering Our Hidden Life in God”. Baginya, inti Kekristenan bukan terutama apa yang kita lakukan bagi Allah, melainkan bagaimana kita hidup bersama Allah (living in interactive relationship with God). Hidup yang bermakna lahir dari kehadiran Allah yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata dari kesibukan religius atau prestasi rohani.

Karenanya, Willard menolak dualisme rohani-duniawi. Hidup rohani bukan urusan doa dan ibadah saja, tetapi mencakup tubuh, pekerjaan, relasi, uang, emosi, dan waktu. Hidup menjadi bermakna ketika seluruh keberadaan manusia (lahir dan batin) diarahkan dan diselaraskan dengan Allah. Willard lalu menggunakan istilah hidden life yang menunjuk pada kehidupan batin yang tertanam dalam Allah. Di sanalah ketenangan, keutuhan, dan arah hidup dibentuk, bahkan ketika hidup secara lahiriah penuh ketidakpastian. Hidup bermakna bukan hidup tanpa masalah, melainkan hidup yang berakar kuat dalam Allah.

Kehidupan manusia yang sarat akan target, pencapaian, dan tekanan untuk “menjadi berarti”, suara Pengkhotbah terasa sangat relevan. Ia membebaskan manusia dari ilusi bahwa makna hidup harus dibuktikan lewat produktivitas tanpa henti. Bersama dengan Pengkhotbah, pemikiran Willard menjadi utuh bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup tanpa keterbatasan, melainkan hidup yang jujur mengakui kefanaan dan tetap setia berjalan di bersama Allah.

Kita belajar bahwa hidup yang bermakna itu adalah sesuatu yang kita terima, bangun dan hidupi dalam kerendahan hati bersama Allah. Dalam kefanaan, manusia justru menemukan undangan ilahi: untuk hidup secukupnya, bersyukur, bertanggung jawab, dan setia. Di sanalah hidup, meski singkat dan rapuh, menjadi sungguh bermakna.

Pdt. Semuel Akihary

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar