cover Renungan Minggu GKI Samanhudi Diam dan Ketahuilah

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Diam & Ketahuilah!

Awal tahun biasanya membawa dua hal sekaligus: harapan baru dan kebisingan baru. Kalender berganti, tetapi hiruk-pikuk dunia tidak berkurang, bahkan semakin intens. Dunia yang kita hidupi berada dalam deru target, resolusi, opini, kecemasan ekonomi, dan tuntutan eksistensial. Tak heran, manusia modern acap kali “kehabisan waktu”, diburu tuntutan dan pencapaian, dan selalu sibuk, bahkan hanya untuk sekedar bediam di hadapan Tuhan, Sang Pemilik kehidupan!

Konteks kehidupan yang sibuk dan bising semacam ini direspon oleh Henri J.M. Nouwen dalam karyanya, The Way of the Heart. Dengan menggunakan gurun sebagai metafora spiritual, Nouwen hendak menyasar kehidupan yang hening, ruang tanpa distraksi, tanpa penopang identitas sosial, dan tanpa kebisingan pada pengakuan public validasi). Di sanalah seseorang belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang dikerjakan atau dikatakan, melainkan oleh relasinya dengan Allah.

Bagi Nouwen, dalam konteks dunia yang bising, gurun menyingkapkan kebenaran bahwa kebisingan sering kali berfungsi sebagai pelarian dari keheningan yang menyingkapkan diri kita apa adanya di hadapan Allah. Dengan begitu Nouwen hendak menegaskan bahwa dunia modern tidak kekurangan suara, namun ia kekurangan keheningan yang bermakna. Kebisingan bukan sekadar soal volume, tetapi soal dominasi suara yang membentuk identitas dan arah hidup manusia.

Rasanya, inilah tawaran spiritualitas yang baik sebagai perenungan awal tahun (dan tentunya seterusnya). Sebuah tawaran yang melawan arus dunia yang bising. Dengan begitu kita menyadari bahwa jalan menuju kehidupan yang utuh bukanlah semakin banyak berbicara atau membuktikan diri, tetapi belajar diam di hadapan Allah.

Hal ini sejalan dengan ajakan Pemazmur (Mzm. 46:10), “…Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah!”. Ini adalah sebuah panggilan untuk menata ulang orientasi hidup di hadapan Allah yang berdaulat. Mazmur 46 termasuk mazmur kepercayaan yang menampilkan kontras tajam antara kekacauan dunia dan ketenangan yang bersumber dari Allah. Gambaran gunung-gunung berguncang, laut bergelora, dan bangsa-bangsa ribut (ay. 2–7) mencerminkan bukan hanya bencana alam, tetapi juga ketidakstabilan politis, sosial, dan eksistensial. Dalam struktur mazmur ini, ayat 10 berfungsi sebagai klimaks teologis: Allah sendiri berbicara dan memerintahkan keheningan.

Dengan demikian, “diam” bukan inisiatif manusia, melainkan respons terhadap pewahyuan Allah.

Kata “diamlah” (Ibrani: harpû, rāphāh), memiliki makna: melepaskan genggaman, berhenti berusaha, mengendurkan kontrol, atau menjadi tenang setelah ketegangan. Makna ini jauh lebih kaya daripada sekadar “tidak berbicara.” harpû menuntut pelepasan aktif. Melepas ilusi kendali, ambisi yang mencekik, dan kegaduhan batin yang lahir dari rasa takut akan masa depan. Dengan demikian, “diam” di sini bukan hal pasif, melainkan tindakan aktif sebagai respon iman yang disengaja: berhenti menguasai hidup agar Allah dinyatakan sebagai Penguasa sejati.

Menariknya, Mazmur 46:10 menyatukan dua kata kerja penting: “diam” (harpû) dan “ketahuilah” (dari yada‘). Dalam tradisi Ibrani, yada‘ tidak menunjuk pada pengetahuan kognitif semata, melainkan pengenalan relasional dan eksistensial. Dengan kata lain, keheningan mendahului pengenalan. Dunia yang bising membanjiri manusia dengan informasi, tetapi justru menghalangi pengenalan akan Allah. Diam dapat menjadi semacam syarat untuk mengenal Tuhan secara benar. Tanpa diam, pengetahuan tentang Allah mudah tergantikan oleh asumsi, ideologi, atau proyeksi diri.

Memasuki tahun baru, kebisingan sering tampil dalam bentuk yang saleh. Apakah itu? Rencana pelayanan, target rohani, resolusi spiritual. Di tengah tampilan saleh itu, Mazmur 46:10 mengoreksi kecenderungan ini dengan lembut tetapi tegas. Allah tidak pertama-tama meminta kita merencanakan, melainkan berdiam (di hadapan Allah). Tidak pertamatama tidak bergerak, tetapi mengenal (relasi dengan Allah). Mengawali tahun yang baru ini, “diam” menjadi disiplin rohani yang mengingatkan kita agar tidak tenggelam dalam kebisingan dan hiruk pikuk dunia.

Panggilan “diamlah” mengundang kita untuk keluar dari dunia yang bising, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk menata ulang hidup di hadapan Allah yang berdaulat. Dalam keheningan itulah kita belajar bahwa masa depan tidak perlu ditakuti, sebab Allah yang sama yang memerintahkan diam, adalah Allah yang ditinggikan atas seluruh bumi.

Selamat menapaki tahun yang baru, 2026. Tuhan membersamai dan menyahabati. “…Diamlah dan ketahuilaih bahwa Akulah Allah!.”

Pdt. Semuel Akihary

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar