Ilustrasi Kehangatan Keluarga Membaca Pesan Natal Di Tengah Dinginnya Salju, di bawah pohon natal

Renungan Minggu GKI Samanhudi

Pemeliharaan Yang Menyertai Setelah Natal

Natal sudah lewat. Lampu-lampu pohon mulai diredupkan. Dekor gereja perlahan diturunkan. Setelah liburan singkat, hidup kembali bergerak dengan ritme yang cepat. Banyak orang merasakan bahwa keindahan Natal lalu begitu cepat: setelah lagu-lagu berhenti dinyanyikan, kita kembali pada pekerjaan yang menumpuk, kecemasan yang menunggu, dan tahun baru yang entah membawa kita kemana.

Kisah keluarga kudus yang mengungsi ke Mesir mengingatkan kita bahwa hidup setelah Natal tidak otomatis menjadi lebih aman atau lebih mudah. Justru setelah kelahiran Yesus, ancaman muncul. Herodes merasa terancam dan memerintahkan pembunuhan anak-anak di Betlehem. Malaikat memerintahkan Yusuf untuk segera melarikan diri ke Mesir. Itulah kenyataan pertama yang mereka hadapi sesudah natal: bukan pesta, melainkan pelarian; bukan kenyamanan, melainkan ketidakpastian. Di tengah ancaman itu, Yusuf taat pada suara Tuhan. Maria mempercayakan diri kepada suaminya.

Yesus kecil dibawa menempuh perjalanan panjang melewati padang gersang menuju negeri asing. Tidak ada mukjizat spektakuler di sepanjang perjalanan. Yang ada hanyalah langkah-langkah kecil kesetiaan. Namun, justru melalui langkah-langkah itulah Allah bekerja. Matius menegaskan bahwa episode pengungsian ini menggenapi firman Tuhan: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Artinya, perjalanan sulit itu bukan gangguan atas rencana Allah, melainkan bagian dari rencana-Nya. Bahkan masa pengungsian pun dipakai sebagai bagian dari karya keselamatan.

Damai Natal bukanlah jaminan bahwa masalah akan hilang, tetapi bekal untuk menghadapi ancaman hidup: kabar buruk, ketidakpastian ekonomi, kesehatan yang menurun, atau masa depan yang tak jelas. Kadang justru di tengah “pengungsian” pemeliharaan Allah tampak paling nyata. Seperti kisah seorang bapak tentang masa sulit yang harus ia hadapi ketika perusahaannya tutup mendadak. Ia terpaksa pindah pekerjaan; rasanya seperti “mengungsi ke negeri asing.” Segalanya harus dimulai dari nol: mencari jaringan baru, menata ulang hidup, dan menghadapi kehilangan. Namun ia tetap melangkah hari demi hari. Setahun kemudian ia berkata, “Ternyata pekerjaan saya yang sekarang jauh lebih sehat bagi saya dan keluarga. Kalau perusahaan lama tidak tutup, saya tidak akan pernah sampai di sini. Dulu saya merasa diusir oleh keadaan. Sekarang saya tahu, saya dipindahkan oleh Tuhan.”

Itulah makna Imanuel: Allah beserta kita; bukan hanya di malam Natal, tetapi di setiap persimpangan hidup. Ia hadir di perjalanan yang melelahkan, di keputusan yang sulit, di tengah kecemasan, dan dalam perubahan yang tidak kita rencanakan. Sama seperti keluarga Yesus,  kita pun dituntun berjalan menuju “Mesir” kita masing-masing. Bukan dengan kepastian penuh, tetapi dengan keyakinan penuh: ke mana pun Ia memimpin, di sana pemeliharaan-Nya sudah  ebih dahulu menanti.

Pdt. Juswantori Ichwan

Renungan Minggu GKI Samanhudi lainnya

logo_hitam_gki_samanhudi

Jl. H. Samanhudi No. 28, Jakarta 10710
021 – 344.8780
021 – 384.4553 / 344.8779 – 1
021 – 380.3229
gkisamanhudi.sekretariat@gmail.com
gkisamanhudi.bag.umum@gmail.com

PERSEMBAHAN
qris-gki-samanhudi

Bank Mandiri
119-0002011714
Cabang Krekot a.n GKI Jabar Samanhudi

BCA
001.303.3398
Cabang Asemka a.n GKI Jabar
Atau Scan QR code untuk M-Banking BCA

Persembahan untuk pembangunan gedung
BCA
001.303.6761
Cabang Asemka a.n GKI Jabar