
Adalah kisah tiga salib. Salib yang di kanan dan di kiri adalah salib penjahat. Mengapa? Jelas, mereka pantas mendapatkannya. Salib adalah hukuman yang setimpal dengan kesalahan dan kejahatan yang telah mereka lakukan. Lalu salib yang di tengah, salib siapakah itu? Sudah pasti salib Yesus! Demikian jawaban orang pada umumnya, termasuk umat beriman. Namun, bila kita merenung secara mendalam, apakah kesalahan dan kejahatan yang Yesus lakukan sehingga Ia pantas mendapatkan hukuman ternista itu? Bukankah yang dilakukan-Nya; memberi makan yang lapar; memberi minum yang haus; menyembuhkan yang sakit; menerima yang ditolak dan dipinggirkan; memberi pengampunan dan pemulihan bagi yang bersalah; membangkitkan yang mati.
Semua yang Yesus lakukan hanyalah kebaikan semata. Tidak ada satu hal pun yang layak jadi alasan salib adalah pantas untuk-Nya. Sesungguhnya Yesus tidak bersalah, Ia tidak berdosa. Bahkan Pontius Pilatus juga tak menemukan satu kesalahan pun pada diri-Nya. Jelaslah, salib yang di tengah itu bukan salib Yesus !
Bila bukan salib Yesus lalu salib siapa? Sesungguhnya salib itu adalah salibku dan salibmu. Salib itu salib kita, karena kitalah yang bersalah dan pantas menerima hukuman atas semua dosa dan kesalahan kita, baik yang nampak melalui yang kita katakan dan kita lakukan maupun yang tidak nampak, yang ada di dalam pikiran dan hati kita.
Lalu, bila sejatinya salib itu milik kita, mengapa bukan kita tetapi Yesus yang disalibkan? Mengapa bukan kita tetapi Yesus yang harus mati? Jawabnya, karena Yesus mau bertukar tempat dengan kita. Ia rela mati asal kita hidup dan memiliki hidup yang berkelimpahan. Mengapa Yesus mau melakukannya? Karena Ia sangat mengasihi kita. Kata Yesus dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
Kasih-Nya adalah anugerah yang memulihkan kita dari segalanya; dari dosa dan kesalahan; dari masa lalu yang kelam. “Meskipun dosamu merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju. Meskipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yesaya 1:18). Darah Anak Domba Allah yang kudus menghapus dosa dunia dan memulihkan kita yang percaya sepenuhnya dan seutuhnya.
Anugerah-Nya yang memulihkan itu mewujudnyata dan nampak jelas dalam hidup kita yang berubah. Dari hidup yang berfokus kepada diri sendiri dan melakukan apa yang menyenangkan diri sendiri, kepada hidup bagi Yesus dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, yakni pekerjaan baik yang telah disediakan-Nya untuk kita. Sebagaimana dikatakan Paulus dalam Efesus 2:8. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.
Pdt. Frida Situmorang