kepastian-dalam-ketidakpastian-2

Yesus bukan lansia. Akan tetapi, Ia bergumul menghadapi kematian. Sehari menjelang kematian-Nya, Ia bergumul di Taman Getsemani sampai larut malam. Tertulis, “Ia mulai merasa sangat susah dan gelisah …” (Mrk. 14:33). Ia curhat kepada para rasul-Nya, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya …” (ay. 34).

Lalu Yesus berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, segala sesuatu mungkin bagi-Mu, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (ay. 36). Begitu berat pergumulan Yesus itu sehingga tertulis, “Ia sangat susah dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44). Yesus yang adalah Putra Allah begitu berat bergumul menghadapi kematian, apalagi kita yang hanya manusia biasa.

Apa yang bisa kita peroleh dari pengalaman Yesus ini? Agaknya, berpegang pada doa Yesus itu, kita boleh memohon, “Tuhan, kalau boleh aku tidak usah menderita sebelum meninggal, tetapi kalau aku perlu mengalami derita ini, biarlah Tuhan memberi kekuatan secukupnya untuk menanggung derita ini. Tentang kapan waktunya dan bagaimana caranya, Tuhan tentu akan mengatur dengan bijak.”

Yesus memperoleh kekuatan dengan menyerahkan kegelisahan-Nya pada kehendak Allah. Kehendak Allah itu menjadi kepastian dalam ketakpastian. Kehendak Allah berarti kasih Allah. Seperti diakui oleh Rasul Paulus, “… tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah” (Rm. 8:35-39). Inilah kepastian iman dalam menghadapi segala ketakpastian, bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, bahkan maut sekalipun.

Sepanjang hidup dalam perkembangan golongan usia, kita diliputi banyak ketakpastian. Satu-satunya kepastian adalah bahwa Tuhan menyertai kita. Itulah juga salah satu tema lagu “Tak ‘Ku Tahu Hari Esok” di PKJ 241.

Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya kuharapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah, akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus. Maka hatiku tenang.

Refrein:
Banyak hal tak kupahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini; Tangan Tuhan yang pegang.

Syair asli dan lagunya diciptakan oleh Ira Stanphill (1914-2004). Ia terkenal karena kepiawaiannya memadu keselarasan syair dan lagu sebagai satu jiwa. Hal itu tampak dalam refrein yang lirik dan melodinya sama-sama makin menguat dan meninggi. Seorang penulis resensi memuji nyanyian ini, “Stanphill melds the delicate lyrics of contemplation with a soft melody that grows in strength and truth.” Karya asli Stanphill adalah sebagai berikut:

I don’t know about tomorrow; I just live from day to day.
I don’t borrow from its sunshine For it skies may turn to grey.
I don’t worry o’er the future, For I know what Jesus said.
And today I’ll walk beside Him, For He knows what is ahead.

Ref:
Many things about tomorrow I don’t seem to understand
But I know who holds tomorrow And I know who holds my hand.

Perhatikan permainan kata dengan dua verba to hold di refrein:
But I know who holds tomorrow And I know who holds my hand.

Padahal kedua verba yang sama ini artinya berbeda. Sangat tepat jika terjemahan harfiahnya menjadi: Tapi aku tahu siapa yang mengatur hari esok dan siapa yang akan menggenggam tanganku. Itulah kepastian dalam ketidakpastian. Semua orang pada tiap golongan usia menghadapi ketakpastian. Sepanjang hidup manusia ditandai oleh ketakpastian. Akan tetapi, ada satu hal yang pasti yaitu bahwa ketakpastian hari esok itu tidak akan kita hadapi seorang diri, sebab Tuhan akan menggenggam tangan kita memasuki hari esok itu.

Andar Ismail

Renungan lainnya