
Kedekatan personal dengan Tuhan itu juga berlaku dalam menghadapi kematian. Menurut Rasul Paulus kita hidup bersama Kristus dan kita juga mati bersama Kristus. Tulisnya, “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya … supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati … demikian juga kita dimungkinkan hidup dalam hidup yang baru” (Rm.6:3-4).
Baptisan yang kita terima adalah lambing hubungan yang betul-betul personal antara kita dengan Kristus. Pada saat kita dibaptis kita mati bersama Kristus, lalu kita bangkit hidup Bersama Kristus. Kita dan Kristus bukan hanya akrab melainkan saling menyatu. Tidak ada saling cuek. Saat kita hidup Kristus menyertai, saat kematian Ia menyambut kita. Kristus takkan mencueki siapa pun.
Perhatikan apa yang terjadi saat Stefanus meninggal dunia. Langit terbuka. Apa yang dilihat oleh Stefanus? Ia melihat Yesus di sebelah kanan Allah. Sedang apa? Duduk? Bukan! Yesus bukan duduk, tetapi berdiri! Yesus berdiri menyambut Stefanus secara personal! Stefanus berseru, “Aku melihat … Anak Manusia berdiri …!” (Kis. 7:56).
Persona dan hubungan personal amat sentral dalam Kabar Selamat Kristus. Dari situ Teori Pendidikan Agama Kristen (PAK) bertumpu pada Filsafat Personalisme, yaitu aliran filsafat dalam Pedagogi yang mengutamakan personalitas sebagai nilai terluhur dalam hubungan horizontal dan vertikal.
Meski tidak pernah disebut, sebetulnya tiap buku Seri Selamat mengacu ke Filsafat Personalisme. Kembali ke cerita masa kecil Ibu Her. Cerita itu dipasang sebagai narasi kontras dengan masa kecil saya di Bandung. Dulu tiap kali pulang sekolah kami nyerocos cerita tentang apa yang terjadi di sekolah. Ikatan dalam keluarga kami lekat. Pulang dari mana pun tiap anak disambut, “Sukur enggak kehujanan!” Kemudian hari dalam masa dewasa, saya pun banyak menikmati senangnya disambut saat pulang.
Ketika kedua anak kami masih balita, begitu melihat saya pulang, istri saya berkata, “Eh, Papa pulang!” Segera kedua anak itu berdiri di kursi dan melihat dari jendela sambil bernyanyi-nyanyi, “Papa pulang! Papa pulang!” Langsung rasa capek dan jengkel saya hilang terganti rasa senang.
Pernah saya dan istri disambut dalam suasana yang sungguh berbeda. Di pintu bandara kami terkejut melihat Pak Sularso Sopater, rektor STT Jakarta, berdiri menunggu. Ia tersenyum sayu. Sambil memegangi tangan saya erat-erat ia berkata, “Saya mewakili almarhum Clement Suleeman. Beliaulah yang sebenarnya ingin menyambut …
Besok pagi kita melepas jenazah beliau di aula” Penyambutan yang unik terjadi ketika istri dan saya tinggal hanya berdua di Rawamangun. Kalau kami pergi, rumah dikunci dari luar. Di dalam hanya ada Sendy. Apa yang terjadi saat setiap kali kami pulang? Sendy sudah berdiri di jendela. Mulailah ia meraung-raung. Ia bukan menggonggong melainkan menangis menggerung-gerung. Saat kami masuk, langsung Sendy meliuk-liuk, mengibas-ngibaskan ekor, dan menciumi kaki kami. Lalu ia meraung lagi seakan-akan berkata, “Syukurlah … kamu sudah pulang! Syukurlah!”
Andar Ismail