
Ibu Her tidak sedang jengkel kepada suaminya, tetapi ia jarang menyambut suaminya pulang dari kantor. Ia cuek-cuek saja. Jangankan tersenyum girang, menoleh pun tidak. Apalagi berdiri dan menyapa. Hampir tiap malam ia bersikap begitu kepada suaminya.
Ketika suaminya pulang setelah seminggu ke luar kota untuk tugas kantor, Bu Her juga dingin-dingin saja saat suaminya turun dari taksi. Bu Her tidak tampak kangen atau rindu. Ia tidak tampak girang bahwa suaminya telah selamat menempuh perjalanan jauh. Ia tidak mendekat dan menolong membawakan tas suaminya.
Suaminya beriktikad mencairkan suasana beku itu dengan menanyakan keadaan. Namun Bu Her dengan kaku menjawab, “Biasa-biasa saja.” Tumbuh dalam asuhan Ibu Her, putra mereka yang balita juga diam-diam saja. Ayahnya datang memeluk dan mengangkat, namun si putra tetap sibuk main HP-nya.
Gejala apa yang ada di balik sifat, dan kepribadian Ibu Her ini? Dalam psikologi/ pedagogi dikenal istilah impersonal. Awalan im menunjukkan ketiadaan. Jadi impersonal berarti tidak adanya atau hilangnya hubungan yang bermutu personal.
Mungkin semasa kecilnya Ibu Her dibesarkan dalam keluarga yang longgar ikatannya. Tidak ada tegur sapa atau berbagi cerita. Tiap kali pulang sekolah, jarang ada pelukan, tepukan di pundak atau belaian sayang dari orangtuanya. Hubungan antar orang dalam keluarga terasa dingin dan datar. Tiap orang jaga jarak dan pandai menyembunyikan “rahasia kecil” masing-masing.
Anak yang dibesarkan dalam suasana impersonal itu biasanya menjadi orang dewasa yang kurang menyukai masa lalunya. Ia enggan bercerita tentang masa lalunya. Supaya jangan ada yang mengorek masa lalunya ia pun menyendiri. Ia susah akrab dengan siapa pun, bahkan dengan istri/ suaminya sendiri.
Kejiwaan impersonal bisa disejajarkan dengan kejiwaan orang yang kurang menyukai dirinya sendiri. Ia malu punya banyak kelemahan dan ia takut kalau-kalau aibnya diketahui orang lain. Akibatnya ia minder dan menutup diri (lih “Percaya Diri Itu Menyukai Diri” di Tukang Ngantar Selamat).
Dampak kejiwaan impersonal bisa jauh sampai ke masalah penyakit dan kematian. Riset psikologis/pedagogis di beberapa rumah sakit universitas kelas dunia menunjukkan bahwa pasien dengan gejala impersonal biasanya kurang semangat untuk sembuh.
Mereka seakan-akan bersikap, “Apa faedahnya sembuh? Kalau aku sembuh, toh tidak ada orang yang jadi girang.” Pasien-pasien itu juga menunjukkan Tingkat kegelisahan dan ketakutan yang tinggi menjelang kematian. Sebetulnya tiap orang tiba-tiba tersentak saat kematiannya mendekat.
Kita tiba-tiba sadar bahwa kita akan berhadapan dengan suatu Kemahakuasaan yang minta pertanggungan jawab dosa-dosa kita. Orang berkejiwaan impersonal menghayati Allah sebagai “Sesuatu” yaitu Suatu Kemahakuasaan yang tidak bersikap personal.
Ia beranggapan bahwa ia pasti dicueki oleh Allah. Ia sulit bisa membayangkan bahwa ia disambut oleh Allah. Padahal menurut Kabar Selamat, Allah adalah persona yang mempersonifikasikan diri dalam sosok Yesus Kristus. Lalu Yesus bercerita tentang Allah sebagai seorang ayah yang personal. Jadi, Tuhan bukan Suatu Kemahakuasaan, melainkan Seorang Persona yang personal. Allah bukan “Sesuatu” melainkan “Seseorang.” (Bersambung)
Andar Ismail